METAFORA DALAM WACANA KAMPANYE

METAFORA DALAM WACANA KAMPANYE PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014

 

disampaikan dalam Promosi Doktor Terbuka

 

Tuturan berkampanye dalam surat kabar memiliki keunikan tersendiri. Sifat unik ini terjadi karena tujuan penulisan sebuah wacana kampanye tidak hanya berkenaan dengan keefektifan dan keefisienan penggunaan bahasa, tetapi juga metafora. Metafora merupakan hal yang sangat menarik dalam semantik. Ullman (1972:212-215) mengemukakan tiga konsep dalam kajian bidang ini. Ketiga konsep itu adalah metafora mempunyai arti penting sebagai daya kreatif dalam bahasa, metafora mempunyai struktur dasar yang sangat sederhana, dan metafora sebagai alat pengisi kekosongan dalam kosakata.

Kategori semantis metafora banyak ragamnya. Kategori semantis itu sering kurang tergali karena perhatian pemakai bahasa kurang. Untuk menampilkan metafora perlu diketahui jenis kategori semantis dan makna metafora. Khazanah metafora dapat diketahui apabila semua jenis kategori semantis dan makna metafora itu teridentifikasi. Untuk itu, kategori semantis dan makna metafora yang menjadi  penyangga kajian semantisnya perlu diidentifikasi. Identifikasi yang lengkap berpeluang menjadikan totalitas metafora itu dikenal dan diketahui para pemakai bahasa.

Kesantunan merupakan abstraksi atau ihwal santun. Santun adalah halus dan baik budi bahasanya, tingkah lakunya, sopan sabar, dan tenang. Kesantunan juga merupakan pertanda orang yang baik budi bahasa dan tingkah lakunya atau orang yang sopan. Politikus ternyata sangat menjunjung kesantunan ini. Hal itu terbukti dari ungkapan kesantunan politikus yang tertuang di dalam tuturannya.

Ungkapan metaforis itu bukanlah sesuatu yang kosong. Di dalamnya terkandung berbagai ajaran hidup. Hal itu terjadi karena memang diciptakannya ungkapan metaforis itu didasarkan pada suatu maksud. Pengalaman hidup dan cita-cita manusia menjadi bahan yang tidak habis-habisnya dalam penciptaan metafora. Masyarakat dapat memetik ajaran atau nilai-nilai yang terkandung dalam ungkapan metaforis itu. Dengan memahami metafora, pemakai bahasa dapat menjadi kaya akan ajaran kebaikan dalam hidup. Pemakai bahasa dapat memperoleh manfaat yang sangat besar.

Dalam menyampaikan maksudnya, calon Presiden dan calon Wakil Presiden Republik Indonesia tahun 2014 kerap kali menggunakan ungkapan metaforis. Ungkapan-ungkapan itu dapat menjadi dasar dalam memformulasikan metafora. Ungkapan-ungkapan metaforis itu misalnya macan Asia, revolusi mental, mengawal rekapitulasi suara, dan masih banyak yang lainnya. Penggunaan ungkapan metaforis itu banyak ditemui dalam wacana kampanye. Hal ini menunjukkan bahwa ungkapan metaforis itu benar-benar ada, telah digunakan, dan dipahami dalam keseharian masyarakat Indonesia. Dengan demikian, jelaslah bahwa metafora berperan strategis dalam wacana kampanye pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tahun 2014. Keberadaan metafora dalam strategi penggunaan bahasa untuk berkampanye dibuat sedemikian rupa sehingga rakyat terbujuk untuk mengikuti seruannya. Politikus memilih dan mengistimewakan metafora.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*